Difabel Kelompok Yang Paling Rentan Terdampak Virus Corona

kataSAPA.com
Dalam situasi pandemik coronavirus (COVID-19) yang berbahaya ini, penyandang disabilitas/difabel merupakan kelompok yang paling rentan terpapar dan sekaligus terkena dampak meluasnya virus ini. Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (Sapda) mendesak pemerintah untuk menyediakan dan mendistribusikan informasi yang mudah diakses oleh setiap kelompok difabel, serta memprioritaskan kelompok ini dalam semua bentuk layanan. Ketika semua pihak mengerahkan berbagai upaya untuk mencegah meluasnya virus corona, ada satu kelompok yang paling rentan tetapi paling jarang mendapat perhatian, yaitu kelompok penyandang disabilitas atau difabel. Direktur Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (Sapda) Nurul Saadah Andriani menilai pemerintah hingga saat ini belum mengeluarkan pernyataan atau kebijakan rencana yang terukur untuk memastikan akses layanan dan jaminan kesehatan bagi difabel dalam situasi sulit ini. Menurutnya seluruh informasi tentang pencegahan agar tidak tertular, bentuk penularan, pemeriksaan gejala, pengobatan serta layanan pengaman sosial selama proses penyembuhan sedianya dibuat dengan mempertimbangkan akses bagi difabel. Sejauh ini ia sendiri belum mendapat informasi apapun, sementara kemungkinan pemberian pelayanan yang bisa diakses kelompok difabel juga masih jauh. Bagi teman-teman tuna rungu harusnya dokter atau siapapun tidak menggunakan masker. Di luar Covid-19, mereka menggunakan bahasa bibir sehingga tidak usah menggunakan masker. Tetapi dalam situasi seperti ini kan tidak mungkin. Nah persoalannya apakah nanti pemberi layanan itu sudah menyiapkan media-media atau informasi yang kemudian mudah dibaca atau kemudian saat mereka berkomunikasi dengan media apa, ungkap Nurul. Belum Ada Sistem Jaminan Sosial Untuk Kelompok Difabel Lebih lanjut Nurul menjelaskan kelompok difable ini juga belum merasakan kebijakan yang memberikan sistem jaminan sosial atau perlindungan sosial bagi mereka. Nurul mencontohkan bagaimana pekerjaan sebagian besar difabel netra adalah menjadi pemijat. Mereka, ujar Nurul, tidak dapat memilih dan memilah siapa yang sudah terpapar atau belum dengan Covid-19. Mereka juga tidak dapat berhenti bekerja karena tidak memiliki sumber penghasilan lain. Untuk menyelamatkan ini sebetulnya kalau memang negara sudah punya sistem maka ada jaminan sehingga mereka minimal punya bahan pokok untuk sehari-hari. Mereka sudah tidak harus nyari sehingga resiko kemungkinan memaparkan atau terpapar tadi, tambah Nurul. Untuk itu Nurul mendesak pemerintah menyediakan dan mendistribusikan informasi yang mudah diakses oleh setiap kelompok difabel, meningkatkan kapasitas sektor perawatan kesehatan dengan cepat untuk memberikan layanan yang memenuhi syarat bagi difabel, serta menempatkan kelompok ini sebagai kelompok prioritas dalam penerimaan semua bentuk layanan tanpa biaya. Achmad Yurianto : Pemerintah Sudah Berusaha Akomodasi Kelompok Difabel Diwawancarai melalui telpon, juru bicara Penanganan Virus Corona dr. Achmad Yurianto mengatakan pemerintah sudah berusaha mengakomodasi kelompok difabel ini sebaik mungkin. Setiap saya rilis informasi, di sebelah saya ada yang memberikan bahasa isyarat. Semua standar sama. Bahasa itu bahasa untuk masyarakat kok bukan bahasa ilmiah kan, kata Achmad Yurianto. [fw/em]
katasapa.com

Corona Bunuh Lebih Banyak Pria daripada Wanita, Ini Penjelasannya

katasapa.com

Baidowi Nilai Permenkes PSBB Masih Menyisakan Masalah

katasapa.com

Ramadan dalam Karantina Akibat Corona di AS

katasapa.com

KOPI KENANGAN Promo Paket PEKA – Pesta Kenangan 5 Minuman mulai Rp. 76.500 saja

katasapa.com

A&W Restoran Promo Paket 5 Potong Ayam Hanya Rp. 59.500

katasapa.com

Setelah Salurkan Bantuan Pangan, Cirebon Rerewang Donasikan APD Untuk RSD Gunung Jati

katasapa.com

Mulai Senin, Pemda Kota Cirebon Berlakukan Pembatasan Jam Operasional Untuk Swalayan dan Pasar Tradisional

katasapa.com

KAI Perpanjang Pengembalian 100 Persen Pembatalan Tiket Hingga 4 Juni 2020

katasapa.com

Anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina Serahkan Bantuan Ratusan APD untuk Dinkes Kabupaten Cirebon

katasapa.com

Pantesan Lautaro Martinez Tak Tergoda Barcelona, Gajinya Lumayan

katasapa.com

Milan Lakukan Segalanya untuk Gaet Ivan Rakitic

katasapa.com

Manchester United Siap Barter Paul Pogba dengan Matthijs de Ligt

katasapa.com

Fonseca Percaya Pemain Roma Tidak Butuh Waktu Lama Untuk Siap Bermain

katasapa.com

Pep Guardiola Kantongi Daftar Panjang Kesalahan Transfer

katasapa.com

Niat Barcelona Gaet Rodrigo Bentancur dari Juventus Akan Terkendala Hal Ini

katasapa.com

Liverpool Tim Inggris Pertama Rumahkan Staf Tak Bermain Mereka

katasapa.com

Uniknya Bentuk Iklan Peradaban Zaman Kuno, Part 5: Iklan Politikus

katasapa.com

Jokowi Marah, Lockdown di Tegal Cuma Bertahan 3 Hari

katasapa.com

Jet Pribadi Messi Seharga Rp200 Miliar Mendarat Darurat

katasapa.com

Sebut Andrea Dian Positif Corona dengan Senangnya di Acara Insert, Jessyn Lim Minta Maaf

katasapa.com

Pertamina Tambah Pasokan LPG 3 Kg di Wilayah Jabodetabek Hampir 50 Persen

katasapa.com

Insiden Jesslyn Lim Salah Sebut ‘Selamat Positif Corona’, Ini Respon Andrea Dian

katasapa.com

Pemprov Jabar Salurkan 16 Ribu APD Termasuk Bantuan dari Jack Ma

katasapa.com

Luhut Panjaitan: Suruh Datang ke Saya, Nanti Saya Cium Tangannya

katasapa.com

IPW: Jangan Asal Dibebaskan, Harusnya Menkumham Rapid Tes Dulu Napi Koruptor

katasapa.com

Tidak Ada Penutupan Pelabuhan, Taufan Pawe: Kita Jaga Ketat

katasapa.com

Pasien Hamil Status PDP Covid-19 Asal Padangsidimpuan Ini Meninggal Dunia, Dimakamkan di Medan

katasapa.com

Sebelum Meninggal, Ibu Hamil PDP Covid-19 Sempat Live FB, Kritik Pelayanan RSUD Padangisidimpuan

katasapa.com

Tokoh Publik Ramai-ramai Kritik Luhut, “Anda Tidak Dewasa dalam Demokrasi”

katasapa.com

Viral Curhat Pasien PDP Covid-19 sebelum Meninggal, Ini Tanggapan Walkot Padangsidimpuan