Bereksperimen-Merawat Tradisi di Tengah ‘Musim Es’ di Bromo dan Dieng

kataSAPA.com

Di Bromo dan Dieng, kemarau superdingin tak hanya berarti derasnya kedatangan para pemburu es. Namun, juga kesempatan untuk bermain-main dengan embun upas atau menunjukkan perhatian kepada binatang kesayangan.

NURUL KOMARIYAH, Probolinggo TAUFIQURRAHMAN, Banjarnegara

WINTER IS COMING. Musim dingin tiba. Di serial Game of Thrones, itu berarti kesuraman yang menjelang.

Mulai cuaca yang berat hingga white walkers yang akan melintas.

Tapi, tidak selalu demikian di Dieng dan Bromo, dua dataran tinggi terkenal di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Winter (baca: musim kemarau yang superdingin) juga bisa berarti keberkahan.

Hotel, losmen, dan homestay penuh. Warung-warung diserbu pembeli. Penjaja jaket, sarung tangan, dan topi hangat laku keras. Semua efek dari derasnya kedatangan para pemburu kristal es, fenomena alam yang hanya terjadi dalam winter seperti sekarang ini. Ketika temperatur bisa anjlok sampai mendekati titik beku 0 derajat Celsius.

Musim panas yang dingin seperti sekarang di Dieng dan Bromo juga bisa berarti terawatnya tradisi atau kebiasaan-kebiasaan kecil. Yang menyenangkan, yang menghangatkan. Yang sebagian di antaranya hanya muncul saat musim brrr(maksudnya musim dingin, eh kemarau yang superdingin ding).

Jumat malam lalu (28/6) Jawa Pos turut merasakan kegembiraan bermain-main dengan cuaca itu. Di belakang rumah Slamet Mustajib, pemilik homestay yang kami tempati, di Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, kami kembali mengadakan eksperimen kecil-kecilan setelah percobaan pertama sehari sebelumnya gagal.

Di belakang rumah tersebut terbentang padang rumput di kawasan Candi Arjuna. Kawasan tersebut terendah di seluruh Dieng. Posisinya seperti mangkuk yang dikelilingi bukit-bukit dan gunung. Menjadikannya tempat paling memungkinkan terbentuknya embun es.

Jadi, ketika angin lembah bertiup, mereka terperangkap di sini. Udara dinginnya tetap di sini, kata Tuban Wiyoso, kepala Satklim Semarang, yang kami temui di tempat yang sama dalam kesempatan berbeda.

Di padang rumput itu, beberapa wadah kami isi air dan kami biarkan di udara terbuka semalaman. Ada gelas kecil dari gerabah dan beling. Lalu, piring juga dari gerabah. Di wadah-wadah itulah, di bawah gigitan suhu 7 derajat Celsius malam itu, kami berharap bisa mendapatkan kristal-kristal es esok paginya.

Beratus-ratus kilometer dari sana, di Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur, musim superdingin seperti sekarang ini berarti waktunya buat Gitok untuk menyiapkan air jahe hangat. Untuk anak, istri, atau teman? Bukan, tapi buat Dominggo, si kuda kesayangan.

Embun es di Gunung Bromo (ZAINAL ARIFIN/JAWA POS)

Ampas jahenya kemudian bisa dibalurkan di pergelangan kaki kuda yang sudah 28 tahun dimilikinya tersebut. Selain itu, dia mengompres perut kaki kuda jenis Sandel Sumba itu dengan handuk atau sarung yang telah dibasahi air hangat agar Dominggo tidak kram.

Semua dilakukan tanpa menunggu si turangga terlihat kedinginan. Pakai perasaan saja.

Kalau kita lagi kedinginan banget, lanjut dia, otomatis kuda merasakan hal yang sama. Meski, hewan yang dimiliki hampir semua warga setempat itu berdarah panas. Tidur juga dialasi jerami tebal biar pulas, ungkap lelaki yang pernah menjuarai pacuan kuda pada 2008 itu.

Kalau kuda sudah mulai mbeler-mbeler, pilek, karena dihajar suhu dingin seperti saat ini, lain lagi penanganannya. Marbak, pemandu persewaan kuda, menggunakan ragi.

Bahan utama untuk fermentasi tape itu dihaluskan dan dicampur ke dalam 10 liter air minum kuda. Jika punya 5 butir telur ayam kampung, bisa sekaligus dicampurkan ke dalamnya, kata pemilik Bagong, kuda berusia 5 tahun yang biasa diajak bekerja mengantar wisatawan itu.

Itu untuk kuda. Kalau untuk orangnya, di musim banyu upas -sebutan warga setempat untuk embun es- seperti sekarang, tak ada tempat yang menyenangkan selain meriung di sekitar pawon.

Pawon merupakan sejenis tungku perapian yang dibuat sendiri dari tatanan batu bata, pasir, dan semen. Biasanya ditempatkan di bagian dapur karena sekaligus difungsikan untuk memasak. Di Jetak, bisa dijumpai hampir di setiap rumah, terutama rumah lawasan.

Jumat sore lalu itu, Jawa Pos numpang meriung di pawon rumah Rudianto, sang kepala desa. Ada istri dan dua keponakannya yang tengah memasak dodol. Selesai kerja atau dari ladang, kalau nggak ke mana-mana, ngumpul semua di depan pawon, kata Rudianto.

Yang paling sering diobrolkan biasanya soal ladang. Apa yang ke depannya mau ditanam, biar terencana dari awal, lanjutnya.

Kebiasaan itu memang dilakukan warga Tengger, suku yang mendiami kawasan sekitar Bromo, tak hanya saat musim banyu upas. Tapi, intensitasnya lebih tinggi kala temperatur begitu rendah di destinasi wisata andalan Jawa Timur tersebut.

Selain pawon, warga Tengger memanfaatkan anglo untuk menghangatkan tubuh. Anglo merupakan wadah arang berbentuk lingkaran yang terbuat dari pelat besi. Sehingga lebih gampang diletakkan atau dipindah-pindah. Saat sore hingga malam dini hari, mereka sering meletakkan anglo di halaman depan rumah. Lantas, duduk mengelilingi anglo tersebut sambil mengobrol bersama teman maupun kerabat.

Apa pun medium penghangatnya, itu saat-saat yang sungguh menyenangkan. Sembari beristirahat, selonjoran, ngobrol. Sembari menikmati kopi, teh, atau wedang jahe untuk melawan cuaca dingin yang sampai bisa melahirkan kristal es.

Namun, tentu ada juga sisi tak menyenangkan dari winter. Di Dieng, embun upas merusak sebagian besar tanaman kentang yang mereka miliki. Apalagi, tahun ini kedatangannya relatif lebih cepat. Jadilah sebagian petani terpaksa panen lebih dini untuk menghindari kerusakan lebih lanjut.

Slamet Arjo (banyak sekali nama Slamet di Dieng) termasuk yang tidak mau mengambil risiko. Begitu musim kering datang, dia ganti semua tanaman kentangnya dengan wortel yang notabene lebih tahan terhadap cuaca dingin.

Itu bagian dari kearifan lokal warga setempat menghadapi ritual tahunan embun upas. Memang harga jual wortel lebih murah, yaitu Rp 4 ribu hingga Rp 5 ribu per kilogram. Sedangkan kentang bisa mencapai Rp 11 ribu per kilogram. Namun, lebih aman. Kalau rusak tidak terlalu rugi, jelas Slamet.

Sabtu pagi (29/6), dari homestay yang kami tempati, terdengar ayam berkokok dan azan Subuh berkumandang. Suhu di ponsel menunjukkan 6 derajat. Kami agak pesimistis eksperimen kecil-kecilan kami akan berhasil.

Sebab, cuaca tidak terasa terlalu dingin, Meski memang sore kemarin tak sempat turun kabut. Jadi, masih ada kemungkinan. Seperti dugaan, kawasan padang rumput Arjuna sudah ramai diserbu pengunjung. Es terbentuk, tapi tipis sekali. Sporadis. Hanya di titik-titik tertentu.

Saat kami mengambil gambar, Slamet Mustajib menelepon. Jackpot! Esnya jadi. Segera kami berlari menuju titik eksperimen.

Di sana Slamet dengan bangga memegang piring es dengan hiasan kartu ucapan Selamat Datang di Dieng 24 Jam Dingin yang bentuknya mirip gantungan kunci akrilik ukuran besar.

Dua bulatan es lain terbentuk dari gelas kecil. Slamet berpose dengan memegang kartu es miliknya. Ah, betapa senangnya. Winter is coming? Siapa takut!

katasapa.com

Gara-Gara Gangguan Teknis, 3.500-An Peserta Ujian Seleksi Mandiri UNS Solo Harus Tes Ulang

katasapa.com

Hiii...! Lapangan Tempat Wali Kota Solo Rudy Bermain Sepak Bola Saat Muda Kini Jadi Sarang Ular

katasapa.com

Sepakat! Suroan dan Suran Agung Ditiadakan Tahun Ini

katasapa.com

Kisah Misteri Museum Sang Nila Utama Riau: Ada Sosok Harimau Putih

katasapa.com

Wah, Peneliti Sebut Harimau Jawa Masih Ada di Hutan Jawa Tengah

katasapa.com

Sedih! Ayah Mempelai Perempuan Positif Covid-19, Pasangan Ini Gagal Nikah

katasapa.com

Cegah Rusuh Mertodranan Terulang, Polda Jateng Terjunkan Dalmas dan Brimob Ke Solo

katasapa.com

Dear Sobat Ambyar! Setiap Malam Jumat Ada Doa Bersama di Makam Didi Kempot

katasapa.com

Ditahan KPK, Mantan Bupati Bogor Rachmat Yasin Masuk Bui Lagi

katasapa.com

Dapat Penghargaan dari Jokowi, Ini Kata Fahri Hamzah dan Fadli Zon

katasapa.com

Update Kasus Covid-19 Sukoharjo: Positif Tambah 18 Kasus, 1 Orang Meninggal Dunia

katasapa.com

Paradoks Olahraga Aman

katasapa.com

Update Covid-19 Karanganyar: Tambah 4 Kasus dari Jumapolo & Jaten karena Kontak Erat

katasapa.com

Deklarasikan Solo Hebat, Komunitas Ini Ingin Wujudkan Pilkada Yang Asyik dan Menggembirakan

katasapa.com

Kasus Covid-19 di Wonogiri Fluktuatif, Pembelajaran Daring Harus Maksimal

katasapa.com

Duh, Kepala SD di Madiun Meninggal Dunia Akibat Covid-19

katasapa.com

Dukung Dunia Pendidikan, BI Cirebon Hadirkan Program BI Mengajar

katasapa.com

Dorong Pengembangan UMKM, Telkomsel Gelar Program UMKM Movement 2020

katasapa.com

Grab Cirebon Sosialisasi Layanan Grab Protect dari Kantor ke Kantor

katasapa.com

5 Alasan Bayern Munchen Bakal Pulangkan Barcelona Dari Liga Champions

katasapa.com

Tolak Napoli dan Roma, Bek Fiorentina Asal Argentina Ini Siap Perpanjang Kontraknya

katasapa.com

Paul Pogba Resmi Teken Kontrak dengan Verdansk FC

katasapa.com

Cinta Dortmund, Jadon Sancho Bikin MU Gigit Jari

katasapa.com

Nostalgia Hari Ini: Manchester United Datangkan Cristiano Ronaldo

katasapa.com

Wilfried Zaha Harusnya Main di Liga Champions

katasapa.com

Mesut Oezil Tekankan Bahwa Dirinya Tetap di Arsenal Sampai Musim Depan

katasapa.com

RB Leipzig vs Atletico Madrid: Tradisi Los Colchoneros Sikat Wakil Jerman

katasapa.com

Ismaila Sarr Buka Suara Soal Ketertarikan Liverpool

katasapa.com

Townsend: Saya Yakin Gareth Bale Ingin Pulang ke Tottenham

katasapa.com

Lampard Suka Gelandang Haus Gol Seperti Havertz