Pembuat Motor Itu Bukan Pekerja Bengkel, melainkan Seniman

kataSAPA.com

ANAK-anak muda ini punya cara tersendiri membuat orang menggandrungi motor custom. Mereka tak sekadar mengutak-atik motor, tapi juga menggairahkannya lewat gerakan. Bikin semacam museum hingga menularkannya ke kampus-kampus lewat edukasi.

MARIYAMA DINA, Surabaya

Sebuahmotor besar yang sudah di-custom terparkir gagah di depan base camp Customland, House of Customland, di kawasan Griya Kebraon Selatan saat dikunjungi Jawa Pos pada Selasa (2/7). Motor itu merupakan salah satu karya pencinta custom motor asal Semarang. Ini base camp-nya memang dibuat seperti minimuseum, terang Dwi Prasetya, founder Customland.

Di ruang utama, berbagai sepedaonthelcustomjuga dipajang. Sepeda-sepeda itu begitu artistik. Terlihat lawas, tapi sedap dipandang. Di bagian lain, sejumlah rak ditata berjajar. Di dalamnya terdapat buku-buku soal desain, seni, dan budaya tentang beragam ilmu. Siapa pun yang ingin mengetahui seluk-beluk duniacustombisa mempelajarinyaDesainbase campyang bernama House of Custom tersebut sengaja dibuat menyenangkan. Setidaknya, siapa pun yang ke sana bisa singgah sebentar, lalu mempelajaricustom culture. Harapannya sih bisa jadi kayak tempat wisatacustom. Ibaratnya kalau Malang punya Museum Angkut, di Surabaya ada museumcustomini, ujarnya. Pras, sapaan akrab Dwi Prasetya, menjelaskan bahwa Customland sebenarnya adalah sebuah gerakan untuk mengenalkan budayacustomkepada masyarakat. Khususnya anak-anak muda. Melalui gerakan tersebut, Customland yang berdiri sejak 2012 itu juga menggagasevent. Biasanyaeventitu berlangsung setiap November di Surabaya.

Di ajang tersebut,custom cultureditularkan lewatworkshop, diskusi, dan pameran. Kadang juga ada acara naik motor bersama. Dari sana, Pras ingin menunjukkan kepada khalayak bahwa mereka yang bisa membuat motor secaracustomitu tidak bisa dianggap sebagai pekerja bengkel belaka, tapi akan lebih baik bila disebut seniman. Sebab, merancang motorcustommembutuhkan kejelian. Yang terpenting juga cita rasa tersendiri. Dengan begitu, ketika motor tersebut sudah selesai dibangun, pemiliknya bisa merasakan kebanggaan luar biasa.

Kini, gerakan itu telah merambah kampus-kampus. NamanyaCustom to Campus. Di sini kami ingin memberikan edukasi secara langsung tentang keilmuancustom culturedari kampus ke kampus di Surabaya dan sekitarnya, sambung pria yang mengambil S-1 desain komunikasi visual di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tersebut.

Pras ingin mengajari generasi muda soal istilah yang datang dari budaya Amerika dan Eropa tersebut. Menurut dia, di kampuscustom culturebisa kian berkembang. Sebab, di lingkungan kampus, hidup beragam karakter orang dengan banyak kegiatan pula.

Gerakan yang bergerak di bidang sosial dan edukasi tersebut baru hadir tahun ini. Dan masih berjalan di dua kampus. Unesa dan Universitas PGRI Adi Buana, terang Pras.

Custom to Campus itu dikemas seperti kuliah singkat. Namun, metode pengajarannya santai dan menyenangkan. Akan ada beberapa materi seperti sejarahcustom culture.Ada juga talk show berbagi pengalaman oleh berbagai komunitas motor, mobil, low rider, para bengkel motor custom, sambung pria yang mengambil S-2 seni budaya di Unesa itu.

Ke depan, Pras ingin mengenalkan gerakannya tersebut menjadi Custom to Hotel. Pria kelahiran 12 Juli itu berencana membawa wisata lokal dan asing untuk mengetahui bakat-bakat masyarakat lokal yang punya kemampuan luar biasa. Baik di dunia custom motor maupun seni. Nah, di sini bisa mengangkat para perajin juga, imbuhnya.

katasapa.com

Mentan SYL: Makan sampai Habis!

katasapa.com

Gol Penalti Eki Fauji Selamatkan PSMS dari Kekalahan Lawan Persik

katasapa.com

Presiden Jokowi Tabur Bunga di Makam Bu Ani dan Pak Habibie

katasapa.com

SYL Ajak Milenial Terapkan Pola Pangan Sehat

katasapa.com

Imbangi Persik, Jafri Sastra : Kami Kecolongan, Banyak Peluang Tidak Bisa Membuat Gol

katasapa.com

Di Hadapan Kader Nasdem, Gubernur Jabar Ajak Legislatif Sejalan dengan Eksekutif

katasapa.com

Virus Hog Colera di Sumut Hanya Menyerang Babi, Belum Ditemukan Kasus Manusia Terinfeksi

katasapa.com

Daftar 8 Gelar The Minions Sepanjang 2019 Ini, Mayoritas Kalahkan Ahsan/Hendra di Final

katasapa.com

Protes Gol PSMS dan Wasit, Pelatih Persik : Kami Melihat Itu Jelas-jelas Bukan Penalti

katasapa.com

Nabung Saja Tak Cukup, Agar Keuangan Aman Lakukan Cara Ini

katasapa.com

Imbang Lawan Korea Utara, Indonesia Segel Tiket Final Piala Asia U-19

katasapa.com

Klasemen Akhir Grup K Kualifikasi Piala Asia U-19: Tak Pernah Kalah, Indonesia Juara Grup

katasapa.com

Juventus vs AC Milan: Bukan Lagi Grande Partita, tapi Sarat Emosi

katasapa.com

Menristek Apresiasi Stem Cell dan Cangkang Kapsul Rumput Laut UNAIR

katasapa.com

Pengantar Rasa Takut

katasapa.com

Liverpool vs Manchester City: Perang Mental Dua Calon Juara

katasapa.com

Pertempuran 10 November: Amad Ingin Tembak Jatuh Pesawat Pakai Lewes

katasapa.com

Jalur Memutar dan Akses Sempit, Bus Enggan Masuk Terminal Kedung Cowek

katasapa.com

Vivo V17 Pro Menang Banyak Kamera, Sisanya Tanggung

katasapa.com

Komisi XI DPR Minta Jokowi Awasi Kebijakan Menkeu Soal Cukai Rokok

katasapa.com

Di Acara Resepsi, Delon Nyanyikan Lagu Spesial Hadiah Bos Nagaswara

katasapa.com

Kunci Mendominasi Ganda Putra Dunia, Marcus: Kami Menikmati Permainan

katasapa.com

Bartender, Sales, Entertainer, Perawat, dan Guru Profesi yang Rentan Perselingkuhan

katasapa.com

Peringati Hari Pahlawan di Makoopsau II, Kas Koopsau Bacakan Sambutan Menteri Sosial

katasapa.com

Stem Cell dan Cangkang Kapsul Rumput Laut Produk Unair, Ini Apresiasi Menristek

katasapa.com

Keberhasilan Studi di Perguruan Tinggi: Bantu Orang Lain untuk Bantu Diri Sendiri

katasapa.com

Diguyur Hujan Abu Merapi, Warga Tlogolele Boyolali Diminta Pakai Masker

katasapa.com

Grebeg Mulud Solo: 2 Gunungan Simbolkan Tugas Laki-Laki dan Perempuan, Apa Itu?

katasapa.com

Di Jepara, Penghuni Indekos Dites HIV

katasapa.com

Gara-Gara Limbah Pabrik PT RUM Sukoharjo, Warga Ini Terpaksa Jual Rumah dan Pindah