Jeihan

kataSAPA.com

SETAHUN sudah berlalu, lebih satu bulan, sejak kami terakhir bertemu. Jumat malam silam, 29 November 2019, saya jumpai dia dalam khidmat yang menusuk dada: antara senang dan sedih. Senang karena kematian yang dia dambakan telah dianugerahkan oleh Allah, pada akhirnya. Sedih karena takkan lagi kami berdebat tentang lebih dulu mana antara rindu dan cinta. Selamat jalan, Mas Jeihan Sukmantoro. Sugeng kondur.

Kami jauh secara jarak dan umur. Ia berusia dua kali lipat dari saya. Mas Jeihan sudah 81 tahun hingga wafatnya, sedangkan saya 41 tahun. Lebih tepat saya memanggil maestro pelukis sufi ini eyang, namun sejak pertama bersua di rumahnya pada akhir 2013, saya dan Mas Jeihan lebih seperti adik dan kakak. Ia memanggil saya, Can, sedangkan saya panggil dia, Mas. Mas Jeihan tinggal di Bandung, saya di Depok, selatan Jakarta.

Kamis masih pagi pada 25 Oktober setahun lalu ketika tiba-tiba pesan pendek dari Mas Jeihan masuk. Bisa ke Bandung sekarang? tulisnya. Entah dia sendiri yang menulis atau penjaga studio di Padasuka yang disuruhnya, yang jelas dia tak mau berkompromi bahwa saya tergagap dan sebenarnya tidak bisa berangkat. Saya sedang sibuk beberapa urusan di Jakarta, dalih saya via telepon. Ya. Saya tunggu, jawab Mas Jeihan, datar.

Akhirnya, saya mengalah untuk memenuhi permintaannya. Astaga, belum lagi duduk dengan tenang di Studio Jeihan, dia sudah mencecar saya dengan kebahagiaan yang luar biasa mendalam. Aku sido arep mati, Can. Sido! serunya tanpa ekspresi sedih sedikit pun. Malah sambil menyeringaikan tawa dan memicingkan dua matanya yang misterius. Nanti dulu. Ini ada apa? tanya saya. Aku jadi akan mati! ujar Mas Jeihan.

Setelah ia meletakkan buku-bukunya, dan lagi-lagi mengisahkan perjalanan kreatif dan spiritualitasnya, dari seorang pemikir, lalu penyair, dan perupa, serta yang terakhir tentang kesufiannya, Mas Jeihan memberi kabar mengejutkan. Alhamdulillah, Allah menghadiahiku ini, benjolan di leherku ini, untuk mempercepat mati, serunya. Setelah belasan tahun cuci darah karena sakit ginjal, dia terkena kanker kelenjar getah bening.

Sudah terlalu sering saya mendengar Mas Jeihan bercerita tentang bagaimana dia mengalahkan S. Sudjojono, gurunya sendiri, dalam sebuah pameran bertajuk Temunya 2 Ekspresionis Besar di Jakarta pada 1985. Gara-garanya, Jeihan membanderol lukisan-lukisannya dengan harga selangit, namun ternyata laku keras. Dia memang sangat suka memaparkan ulang renungan-renungan dan pandangannya yang jauh.

Saya juga terlalu sering mendengarnya mengulang-ulang perkataan yang dia hafal di luar kepala. Puncak seni itu puisi, puncak puisi itu filsafat, dan puncak filsafat itu sufisme, tutur Mas Jeihan. Namun, kali itu saya tertegun ketika dia membaca lagi selarik puisinya dengan tatapan berbinar-binar dan wajah yang terbahak. Puisi itu ungkapan perasaannya yang amat dalam pada kematian, yang lama dirindukannya.

Hati tenang,

bunga kembang,

burung terbang,

jalan terang,

aku pulang.

Jika kelahiran dan pernikahan disambut bahagia, menurut Mas Jeihan, demikian pula seharusnya kematian. Kelak jika aku mati, anakku sulung sudah di pintu surga menanti, empat anakku laki-laki mengangkat peti jenazah, dua anakku perempuan membawa bunga, ujarnya. Sejak lama, Mas Jeihan bahkan telah menyiapkan makamnya sendiri di belakang studio, dengan batu nisan dari Muntilan, Jawa Tengah, dan menziarahinya.

Mas Jeihan pernah mati suri pada umur 4 tahun setelah jatuh dari tangga. Sejak saat itu, pelukis kelahiran Ampel, Boyolali, Jawa Tengah, 26 September 1938, ini merasa berbeda dari anak-anak lain. Dia mengaku menikmati kehidupan yang menyepi, tidak benar-benar punya teman yang karib, dan menikmati kesendiriannya di depan kanvas dengan daya hidup, daya tahan, daya lawan, dan daya mati. Dengan suwung. Kosong.

Di bulan Ramadan, pada 20 Juni 2017, Mas Jeihan memanggil saya untuk dilukisnya di studio. Tidak sampai setengah jam, dia telah abadikan saya dengan sepasang mata hitam, seperti gua gaib yang entah menuju ke mana. Dia pulaskan warna merah, biru, dan kuning, memberi aura di badan saya dalam kanvas. Lukisan itu hadiah terbaiknya dan menjadi satu di antara 14 lukisannya yang menghiasi buku puisi saya, Surat Cinta dari Rindu.

Satu petuah Mas Jeihan terngiang di benak saya hingga kini. Dia berkata, Hidup adalah tentang mitologi dan metodologi. Mitologi diciptakan dengan spiritualitas, sedangkan metodologi diciptakan dengan kebudayaan. Saya bersila menghadap jenazah si pelukis mata kucing, yang diselimuti selembar kain batik. Potretnya seperti menatap, teduh tapi tajam. Terima kasih pernah menerima saya belajar. Terima kasih untuk hidupmu. (*)

Candra Malik, budayawan

katasapa.com

Di Klaten, Sampah Bisa Jadi Karya Seni Lewat Gelaran Ini

katasapa.com

Covid-19 Solo Masih Zona Oranye, Wali Kota Rudy Sebut Hitam Untuk Shock Therapy

katasapa.com

Rapid Test Deteksi Covid-19, 2 ASN Pemkot Solo Reaktif

katasapa.com

Ingin Juara Liga Spanyol, Barcelona Butuh Mukjizat

katasapa.com

Buat Kamu yang Suka Ngopi, Ini Manfaat Kopi buat Kesehatan

katasapa.com

Karanganyar Usul ke Pemprov Jateng Bangun SMA/SMK di Jaten, Jatiyoso, dan Colomadu

katasapa.com

Terungkap! 4.825 Kursi SMA/SMK Negeri di Jateng Ternyata Tidak Terisi

katasapa.com

Potensi Melimpah, Wilayah Selatan Wonogiri Bakal Jadi Kawasan Industri

katasapa.com

Eks Pelatih Timnas Indonesia Rahmad Darmawan Jadi Kader Demokrat

katasapa.com

Polisi Duga Artis FTV Hana Hanifah Sudah Setahun Terlibat Prostitusi

katasapa.com

Laju Tersendat, Manchester United Bertekad Menangi 3 Laga Sisa

katasapa.com

Hari Ini Dalam Sejarah: 15 Juli 1099, Tentara Salib Menguasai Yerusalem

katasapa.com

Solusi Era New Normal, CCTV Sebaiknya Pakai Sensor Panas

katasapa.com

Seluruh Desa di Kabupaten Cirebon Akan Terkoneksi Internet

katasapa.com

Telkomsel Pastikan Data Pelanggan Tetap Aman

katasapa.com

Manchester City Bidik Veteran Tottenham dengan Bebas Transfer

katasapa.com

Barcelona Terbuka Pinjamkan Samuel Umtiti

katasapa.com

Kalahkan Torino, Diego Godin Yakin Inter Bisa Amankan Posisi Kedua

katasapa.com

Nostalagi Hari Ini: Skandal Calciopoli Hancurkan Sepak Bola Italia

katasapa.com

Jadwal TV Liga Inggris Pekan ke-36: Arsenal vs Liverpool dan Empat Besar Sengit

katasapa.com

Prediksi: Bologna vs Napoli

katasapa.com

Nemanja Matic: Manchester United Harus Sapu Bersih 3 Laga Sisa!

katasapa.com

Legenda Simson Rumah Pasal, Tak Berdaya Lawan Malaysia dan Bikin Kagum Johan Cruyff

katasapa.com

Bek Tottenham: Mourinho Lebih Jago Taktik daripada Pochettino

katasapa.com

Manchester City Lolos dari Hukuman, Javier Tebas Berang

katasapa.com

Sisi Lain De Kuip, Markas Feyenoord yang Disamakan dengan Stadion di Bandung

katasapa.com

Bikin Kesalahan, Maguire Justru Merasa Pertahanan Manchester United Sudah Solid

katasapa.com

Lampard Keluhkan Komunikasi Pemain Chelsea di Lapangan

katasapa.com

Ditawari Uang Rp 20 Juta, Wasit Korban Kekerasan Tempuh Jalur Hukum

katasapa.com

Prediksi: Sassuolo vs Juventus