Duterte Bakal Kembali Berlakukan Hukuman Mati, Pegiat Keadilan Marah

kataSAPA.com

Para pegiat keadilan di Filipina marah. Mereka adalah aktivis penentang hukuman mati. Hal tersebut lantaran Presiden Rodrigo Duterte berencana untuk memberlakukan kembali hukuman mati di Filipina. Duterte memang mengkhususkan hukuman mati tersebut sebagai bagian dari memerangi peredaran narkoba di Filipina.

Seperti diketahui, semenjak menjabat sebagai Presiden Filipina, Duterte membuat kebijakan tembak di tempat terhadap bandar narkoba atau mereka yang terlibat dalam perdagangan narkoba. Padahal, Filipina sudah tak menerapkan hukuman mati bagi penjahat atau pelaku kriminal. Namun, Duterte dalam memerangi narkoba menerapkan kebijakan berdarah.

  • Baca juga: Penanganan Covid-19 di Filipina Diragukan, Duterte: Bunuh Semua Pasien

Saat Duterte pada akhir Juli kemarin mendorong sekali lagi untuk memberlakukan kembali hukuman mati bagi para pelanggar narkoba, tentu pegiat keadilan terkejut. Tanpa pemberlakuan hukuman mati, banyak pelaku kejahatan narkoba tewas saat dilakukan penggerebekan dan penangkapan. Artinya, ketika hukuman mati kembali diberlakukan, maka penjahat narkoba yang meninggal akan semakin banyak. Hal ini disebut pegiat keadilan bertentangan dengan HAM.

Sejak berkuasa pada 2016, Duterte memang telah melakukan tindakan brutal terhadap tersangka pengguna dan pengedar narkoba. Duterte mengeluarkan perintah tembak kepada polisi dan sambil mendorong warga untuk juga membunuh pengguna narkoba.

Polisi sendiri mengatakan mereka menembak karena untuk membela diri saat melakukan penggerebekan dan data menunjukkan lebih dari 8.000 orang tewas dalam operasi anti-narkoba di Filipina. Namun, Komisi HAM Filipina memperkirakan korban tewas mencapai 27.000 orang.

Tumpukan mayat telah didokumentasikan oleh jurnalis foto setelah penggerebekan polisi. Bahkan banyak mayat yang dibiarkan di jalan-jalan dan itu diduga pembunuhan akibat main hakim sendiri. Tentunya ini sangat mengejutkan dunia.

Hukuman mati akan memberi negara senjata lain dalam perang yang sedang berlangsung melawan narkoba, kata Carlos Conde, peneliti asal Filipina untuk Human Rights Watch seperti dilansir BBC.

Survei oleh Social Weather Stations, sebuah lembaga jajak pendapat, telah menunjukkan perang terhadap narkoba tetap populer di Filipina. Para ahli sendiri menyebut sebenarnya kebijakan berdarah gagal mengekang penggunaan atau pasokan narkoba. Hal itu membuat mayoritas publik mendukung pemberlakuan kembali hukuman mati terhadap penjahat narkoba yang tertangkap.

Sementara itu, sekjen dari Free Legal Assistance Group yang merupakan jaringan pengacara HAM, Maria Socorro Diokno, banyak yang memilih opsi lain ketika disodorkan rencana pemberlakuan kembali hukuman mati. Mereka mulai berpikir bahwa kematian tidak selalu menjadi jawaban, kata Diokno.

Diokno sendiri yang memimpin gugus tugas anti-hukuman mati telah bersiap untuk pertempuran dengan Duterte sejak muncul rencana untuk pemberlakuan kembali hukuman mati sebagai bagian dari kampanye dalam Pilpres. Hukuman mati di Filipina telah dihapuskan dua kali sebelumnya. Pertama pada 1987. Namun, diberlakukan lagi pada 1993. Dan, pada 2006 kembali dihapuskan.

Duterte seperti diketahui dalam pidato tahunannya pada akhir Juli kemarin, memunculkan rencana untuk menerapkan kembali hukuman mati dengan suntikan mematikan. Hal itu diyakini akan bisa mencegah angka kriminalitas.

katasapa.com

Katalog ALFAMIDI Promo Mingguan Periode 16-31 Agustus 2020

katasapa.com

Katalog TIP TOP PASAR SWALAYAN Promo Mingguan Periode 16-31 Agustus 2020

katasapa.com

Promo ALFAMART TERBARU Katalog Belanja Mingguan periode 16-31 Agustus 2020

katasapa.com

Gudang Mebel Seluas 1.000 Meter Persegi Terbakar, Kerugian Capai Rp10 Miliar

katasapa.com

Update Covid-19 Klaten: 4 Pasien Baru Sembuh, Tapi Tambah 3 Kasus Baru

katasapa.com

Peringatan Untuk Pendaki Lawu: Ingat, Gunung Bukan Tempat Sampah, Bawa Turun Sampahmu!

katasapa.com

Kecelakaan Klaten: Mobil Diseruduk Bus di Prambanan, 2 Orang Jadi Korban

katasapa.com

Duh, Kasus Covid-19 di DIY Tembus 1.000 Orang

katasapa.com

Wow! VW Kodok Klasik Cuma Jadi Pajangan Jalanan di Klaten

katasapa.com

Pemkab Tegaskan Tempat Wisata di Wonogiri Belum Boleh Dibuka

katasapa.com

Sempat Down, Anggita Harumkan Nama Sragen dengan Juara II Duta Genre Jateng

katasapa.com

GP Austria: Dovizioso Juara, Rossi Hampir Ketiban Motor

katasapa.com

Usai Dilumat Bayern Munchen, Barcelona Dirumorkan Bakal Pecat 2 Orang

katasapa.com

3 Mobil Dan 1 Motor Kecelakaan Di Klaten Utara, Pengendara Honda Revo Terpental dan Luka Parah

katasapa.com

Bupati Juliyatmono: Covid-19 Belum Sebanding dengan Perjuangan Kemerdekaan

katasapa.com

10.000 Dukungan Tambahan Memenuhi Syarat, Bajo Lolos Verifikasi Pilkada Solo?

katasapa.com

Wisata Wonogiri Belum Dibuka, Pemkab Minta Pengelola Siapkan Simulasi Protokol Kesehatan

katasapa.com

Serem! Ini Deretan Penampakan di Rumah Kosong Sudut Jl Selokan Mataram Sleman

katasapa.com

Perbanyak Ibadah di Bulan Dzulhijjah

katasapa.com

Tawangmangu Karanganyar Padat Pengunjung, Kapolsek Hanya Bisa Ingatkan Protokol Kesehatan

katasapa.com

Hari Ini Dalam Sejarah: 17 Agustus 1945, Indonesia Merdeka

katasapa.com

Kolaborasi Dengan APTISI, Telkomsel Hadirkan Layanan Internet Murah Untuk 312 Perguruan Tinggi

katasapa.com

Kasus Terkonfirmasi Covid-19 di Kabupaten Cirebon Bertambah 10 Orang

katasapa.com

Berikan Edukasi Pemasangan AC, A.I.O Store Gelar Pameran di Mall

katasapa.com

Manchester United Kirim Pemain Mudanya ke Werder Bremen

katasapa.com

Ringkasan Berita Transfer Malam Ini: Messi, Milan, Juventus, Chelsea, Atletico

katasapa.com

Diego Godin Ungkap Taktik Yang Harus Dilakukan Inter Untuk Redam Shakhtar

katasapa.com

Juventus Siap Lepas Paulo Dybala, Bintang Barcelona Jadi Gantinya

katasapa.com

Barcelona Akan Tertegun Lihat Murahnya Nilai Starting XI Bayern Munchen

katasapa.com

138 Hari Lagi, Lionel Messi Bisa Mulai Diskusi Transfer Dengan Klub Baru