Mungkinkah PAN “Tanpa” Amien Rais?

kataSAPA.com

Oleh: Hadisaputra
Staf Pengajar Sosiologi Unismuh Makassar

Kongres PAN di Kendari, 10-12 Februari 2020, kembali menetapkan Zulkifli Hasan sebagai Ketua Umum PAN periode 2020-2025. Pertanyaan yang menyeruak di benak publik, apa makna kemenangan Zulkifli Hasan, dan bagaimana masa depan PAN tanpa Amien Rais.

Kata tanpa harus segera diberi tanda petik, karena hingga artikel ini ditulis, Amien Rais belum menyatakan sikap pasca jagoannya, Mulfachri Harahap, tumbang dalam Kongres. Zulkifli dalam pidato kemenangannya pun, hanya menyinggung Hatta Rajasa yang diminta menjabat Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP), belum menyinggung nasib sang pendiri partai dalam kepengurusan PAN mendatang.

Kemenangan Zulkifli

Kemenangan Zulkifli mendapat respon yang beragam dari publik. Ada yang berpandangan, kemenangannya merupakan wujud intervensi istana. Sebelum Kongres Kendari, kubu Mulfachri yang didukung Amien Rais telah menegaskan, jika mereka menang, PAN akan tetap berada di barisan oposisi. Mereka memutuskan akan menjadi mitra kritis Pemerintah.

Sebaliknya, meski kubu Zulkifli tak pernah menunjukkan pandangan tegas akan berlabuh ke Koalisi Jokowi, sinyal menuju ke sana bukan isapan jempol. Misalnya, belakangan Zulkifli didukung oleh gerbong PAN pendukung Jokowi. Sebutlah, bergabungnya mantan Menteri Jokowi, Asman Abnur, yang didukung Hatta Rajasa dan Bima Arya. Namun, kebenaran asumsi ini, masih menunggu sikap yang akan diambil Zulkifli Hasan dalam beberapa waktu ke depan.

Di sisi lain, kemenangan Zulkifli juga dapat dimaknai sebagai loncatan PAN untuk keluar dari bayang-bayang ketokohan Amien Rais. Jika demikian, apakah Amien Rais gagal mempertahankan ketokohan? Justru saya berpandangan, Amien Rais telah berhasil menginstitusionalisasikan demokrasi dalam tubuh partainya. Amien ibarat guru yang berhasil mendidik murid-muridnya tentang makna demokrasi.

Sejak Kongres II hingga V, Amien selalu menyuarakan tradisi Ketua Umum PAN hanya satu periode. Amien juga selalu mencontohkan proses demokratisasi dalam tubuh partainya. Nuansa egalitarianisme yang merupakan nilai inheren dalam demokrasi, membuat Amien tak kaget dilawan murid-muridnya sendiri.

Pada Kongres III, titah Amien tak sepenuhnya diikuti. Dalam Kongres IV di Bali, gerbong Amien Rais hampir kalah. Malah dalam Kongres Kendari, Zulkifli Hasan, Hatta Rajasa dan Soetrisno Bachir bersatu dan melawan sang guru. Sang guru berhasil dikalahkan. Tapi bukankah itu bukti, bahwa sang guru telah berhasil. Ia telah mencetak murid yang lebih hebat dari dirinya.

Mungkin dalam model mendidik murid berpolitik dan berdemokrasi, Amien meminjam strategi Gus Dur di PKB. Gus Dur telah berhasil menghasilkan tokoh seperti Matori Abdul Jalil dan Muhaimin Iskandar. PKB sekarang mampu melampaui bayang-bayang Gus Dur. Mereka telah membangun institusi partai modern, yang mengandalkan sistem dan kekuatan kolektif fungsionarisnya.

Masa Depan PAN

Lalu bagaimana masa depan PAN tanpa Amien Rais? Ada yang pesimis, ada yang optimis. Kelompok pesimis menganggap Mantan Ketua MPR ini masih merupakan magnet elektoral bagi PAN. Mungkin Amien tak lagi berpengaruh di kalangan fungsionaris PAN, namun ia masih memiliki banyak pengikut di akar rumput. Segmen pemilih dari kalangan Muhammadiyah, misalnya, sebagian besar mendukung PAN karena sosok Amien. Bagi kelompok pesimis ini, tanpa Amien Rais, PAN sedang menyiapkan kuburannya di Pemilu 2024.

Bagi yang berpandangan optimistik, inilah kesempatan bagi PAN untuk bertransformasi menjadi partai modern. Partai yang berpijak pada mekanisme, dan kekuatan kolektif. Memenangkan Pemilu, bukan karena kharisma tokoh, melainkan kinerja para aktivis partai yang duduk di eksekutif maupun legislatif.

Dalam merumuskan masa depan sebuah organisasi, setidaknya mesti menimbang tiga hal. Pertama, tujuan pendirian organisasi sebagaimana dirumuskan para founding fathers. Kedua, keinginan para pengurus/ anggota organisasi saat ini. Ketiga, perkembangan tren isu zaman.

Dalam konteks partai politik, juga demikian. Partai tetap harus merujuk pada cita-cita para pendiri partai. Namun sebagai partai modern, yang dirujuk adalah pelembagaan cita-cita pendiri partai melalui konstitusi partai, sebagaimana tercermin dalam Platform, AD/ART atau pedoman organisasi lainnya.

Misalnya, keinginan Amien Rais membangun tradisi Ketua Umum PAN satu periode, seharusnya dituangkan dalam AD/ART partai. Bukan nanti diumumkan ke khalayak jelang Kongres. Kesannya, yang terjadi adalah fenomena like and dislike, bukan menegakkan platform partai.

Sebagai partai modern, partai juga harus dikelola sebagai milik bersama seluruh fungsionaris partai. Semua pengurus dan anggota memiliki saham dalam membesarkan partai. Oleh karena itu, harapan arus bawah juga harus didengar. Mekanisme penyaluran aspirasi arus bawah, seharusnya juga menjadi putusan Kongres. Sebagai contoh, bagaimana mekanisme penjaringan kepala daerah, yang selama ini cenderung didominasi DPP. Mekanisme partai seharusnya posisinya lebih tinggi dari titah Ketua Partai.

Partai juga tak boleh buta dan tuli dengan perkembangan zaman. Misalnya, di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0, partai dapat lebih mudah menjangkau aspirasi konstituen secara digital. Isu yang digulirkan Asman Abnur dalam visi pencalonannya, tentang maksimalisasi E-Parpol, layak dipertimbangkan PAN.

Jadi bagaimana masa depan PAN tanpa Amien Rais? Jika melembagakan cita-cita founding father, harapan pengurus di akar rumput, dan beradaptasi dengan perkembangan zaman, saya berpandangan PAN punya masa depan cerah. Bagaimana dengan Anda? (*)

sumber: fajar.co.id
katasapa.com

Jelang Liga 1 2020: Arema FC, Salah Satu Kandidat Juara

katasapa.com

Edinson Cavani Cetak Gol Bersejarah Saat PSG Lawan Bordeaux

katasapa.com

Dukungan Morel PSG untuk Cina dalam Hadapi Virus Corona

katasapa.com

Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo Bakal Main Setim, Semua Berkat David Beckham

katasapa.com

Ini Gol Terbaik Edinson Cavani Selama Memperkuat PSG

katasapa.com

Robin Gosens Tak Sabar Tunggu Panggilan Timnas Jerman

katasapa.com

Egy Maulana Vikri Masuk DSP, Lechia Gdansk Kalah, Suporter Berulah

katasapa.com

Kapolri: Saya Perintahkan Semua Kapolda Dukung Bhayangkara FC

katasapa.com

Persija Main Keras, Pelatih Geylang Geleng-Geleng

katasapa.com

Ini Daftar Pemain Bertabur Bintang Bhayangkara FC di Liga 1 2020

katasapa.com

BREAKING! Liga 1 Sepekan Lagi, Eduardo Perez dan PSS Resmi Bercerai

katasapa.com

Jelang Liga 1 2020, Berharap Skuat Bintang Persija Tak Antiklimaks

katasapa.com

Grealish Bangga Jadi Incaran Liverpool, Tapi…

katasapa.com

Geoffrey Castillion dan Wander Luiz Dapat Restu Tinggalkan Skuat Persib

katasapa.com

Phil Foden Ingin Selama Mungkin Bertahan di City

katasapa.com

Prediksi Chelsea vs Bayern Munich

katasapa.com

Mantan Bos Hoffenheim Ungkap Kekurangan Firmino

katasapa.com

Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Hal yang Mencuri Perhatian Saat Launching Persija

katasapa.com

Mesin Gol Jerman Ingin Dilatih Jurgen Klopp

katasapa.com

Wenger Tak Ikhlas Liverpool Samai Prestasi Invincibles Arsenal

katasapa.com

Kronologi Pengunduran Diri Eduardo Perez dari Kursi Kepelatihan PSS Sleman

katasapa.com

Dapat Pujian dari Messi, Lautaro Martinez Diminta Jaga Fokus

katasapa.com

Ketum PSSI: Agenda Kepolisian Takkan Ganggu Jalannya Liga 1

katasapa.com

Bahaya Merusak Otak, Alasan Menyundul Bola Mulai Dilarang di Sepak Bola

katasapa.com

Dihantui Virus Corona, Laga Juventus vs Inter Tanpa Penonton?

katasapa.com

Matuidi Tak Punya Rencana Tinggalkan Juventus

katasapa.com

Guardiola: City Harus Seperti Madrid

katasapa.com

Kepala Desa Diharapkan Mampu Ubah Pola Pikir Masyarakat

katasapa.com

Pemprov Sulsel Target Jadi Provinsi Layak Anak Tahun Ini

katasapa.com

Ratusan Pil Diduga Narkoba Diamankan di Bandung, Ini Lokasi Tujuan Pengiriman