Belajar dari Gedung Angker

kataSAPA.com

Solopos.com, SOLO -- Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati punya cara berbeda untuk membangun kesadaran warga. Ia akan mengirim pemudik yang tak mau menjalani karantina mandiri ke gedung kosong yang dikenal warag sebagai gedung angker.

Karantina mandiri untuk mencegah penularan Covid-19. Para pemudik, terutama dari zona penularan Covid-19, potensial menjadi pembawa virus corona baru penyebab penyakit tersebut. Beberapa warga yang ngeyel kemudian dikirim di gedung angker untuk menjalani karantina selama 14 hari.

Namanya juga gedung angker, pasti bikin keder. Tiga orang yang menjalani karantina mandiri di gedung itu tak kuat dan minta ampun, minta diizinkan pulang. Mereka membuat surat pernyataan akan taat menjalani karantina mandiri di rumah.

Para peserta karantina di gedung angker itu mengaku sering melihat makhluk aneh pada malam hari. Ancaman masuk rumah hantu ini menjadikan orang berpikir seribu kali dan pasti berusaha disiplin menjalani isolasi di tempat karantina mandiri.

Beberapa tahun lalu saya memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam. Setelah memeriksa, dokter merekomendasikan saya dirawat di rumah sakit. Saya bernegosiasi minta rawat jalan. Saya ngeyel. Mungkin jengkel, dokter mengeluarkan jurus pamungkas.

Saya baru saja merawat pasien yang sakit seperti kamu. Akhirnya meninggal, kata dokter itu tanpa ekspresi.

Sialan. Dokternya sadis, begitu batin saya.

Saya menyerah. Menjalani bedrest di rumah sakit selama sepekan. Alhamdulillah sembuh. Bisa jadi ceritanya akan lain kalau saya tidak disiplin menuruti saran dokter.

Mengapa penghuni rumah angker akhirnya memilih menjalani karantina mandiri? Mengapa saya akhirnya mau dirawat di rumah sakit? Karena takut! Mereka takut hantu. Saya takut mati.

Secara fitrah manusia akan membuat kesadaran baru saat menghadapi situasi krisis, menghadapi rasa takut. Kesadaran mencari jawaban, kesadaran mencari jalan keluar. Ilmu pengetahuan juga diciptakan agar manusia bisa keluar dari krisis.

Sebelumnya, manusia menggunakan mitos guna menjawab masalah. Saat ini pun para ahli bekerja keras untuk menemukan vaksin Corona Virus Disease-19 atau Covid-19 sekaligus menemukan obatnya. Ini sebagai ikhtiar untuk menjawab krisis.

Tanpa menemukan dua hal ini, perkembangan virus ini akan sulit ditekan. Beberepa hari lalu saya menulis status di akun Facebook: Serangan virus corona bukan akhir dari sejarah. Krisis ini justru akan melahirkan sejarah baru bagi manusia. Kita tunggu saja...

Status ini percikan pemikiran spontan saja atas dasar keyakinan. Faktanya, dalam sejarah, situasi pandemi dan krisis lain mengakibatkan keterpurukan sekaligus menjadi titik awal kebangkitan paradaban baru. Fakta ini saya kutip dari tulisan Trias Kuncahyono, Menuju Zaman Baru.

Jurnalis senior yang menulis di Kompas.id ini mengemukakan sejarah bahwa wabah adalah faktor kunci mundurnya zaman purbakala sekaligus lahirnya abad pertengahan. Dengan kata lain, pandemi menjadi salah satu unsur yang mendorong perubahan zaman.

Pada zaman dulu, pandemi berpengaruh nyata terhadap sistem politik, ekonomi, atau budaya. Tatanan dunia berubah. Tatanan kehidupan berubah karena ada kesadaran manusia untuk menggunakan fitrah. Saya yakin banyak orang mencari jalan keluar dari situasi sulit ini.

Mencari jalan baru. Jalan yang tidak biasa seperti saat situasi normal. Di tengah keterbatasan, para pelaku usaha berkonsolidasi membangun strategi di luar kebiasaan bisnis yang dilakoni. Banyak keluarga juga mencari cara baru untuk bertahan hidup.

Belajar Banyak Hal

Sesungguhnya selama krisis ini manusia bisa belajar banyak hal. Kalau mau. Belajar disiplin, belajar menjaga kebersihan, belajar berpikir cepat secara terukur, belajar melihat kecenderungan masa depan dengan perhitungan sains yang matang, belajar saling membantu dan bersolidaritas meringankan beban hidup orang lain.

Penguasa perlu belajar menggunakan anggaran benar-benar untuk kepentingan rakyat, bukan kepentingan proyek semata. Wakil rakyat belajar merasakan penderitaan rakyat. Bukan malah menempatkan diri seolah-olah makhluk asing yang tidak peduli nasib rakyat.

Krisis juga menyadarkan tidak perlu lagi ada orang penting yang cenderung cengengesan seperti pada awal-awal virus corona tipe baru ini muncul. Mereka bilang terinfeksi virus bisa sembuh dengan sendirinya seperti virus flu biasa, tingkat kematian kecil hanya 2%, bahkan lebih besar kematian karena batuk dan pilek.

Ada yang berkata orang Indonesia kebal virus karena makan nasi kucing, Indonensia punya obat virus susu kuda liar, virus corona susah masuk Indonesia karena izinnya susah, tingkat kematian hanya 500 orang. Pernyataan-pernyataan yang tidak mencerminkan pendekatan sains, tapi cenderung ke arah mitos.

Sekarang kita terkaget-kaget. Ketidaksiapan para pemangku kepentingan sejak awal mengakibatkan situasi seperti saat ini. Persebaran virus sesungguhnya bisa diprediksi sejak awal. Kata kolumnis Thomas L. Friedman, dunia ini kian datar, tanpa batas.

Bukan hanya tanpa batas secara maya, tapi juga secara nyata. Mobilitas tinggi manusia antarnegara menyebabkan wabah di negeri yang jauh di sana mudah menular ke negara-negara lain. Mengapa ini tidak dipikirkan?

Pengalaman negara lain yang bisa menekan dampak virus karena faktor kepemimpinan yang bertindak cepat, tanpa memandang negara maju atau bukan, seharusnya jadi pelajaran. Negara adidaya Amerika Serikat babak belur menghadapi persebaranvirus ini karena kepemimpinan Presiden Donald Trump yang cengengesan.

Sebaliknya, negara biasa-biasa saja seperti Vietnam mampu menekan persebaran virus secara meyakinkan. Krisis akan melahirkan era baru jika warga dan penguasa bisa mengembangkan cara berpikir baru pada saat krisis.

Era baru tidak akan lahir dari orang yang mengalami krisis pemikiran saat krisis. Sayangnya, orang yang terinfeksi krisis pemikiran ini cukup banyak. Lebih suka menggunakan mitos ketimbang akal sehat. Mungkin mereka perlu dimasukkan ke rumah hantu di Sragen itu agar mereka sadar dan mau belajar.

The post Belajar dari Gedung Angker appeared first on Solopos.com.

katasapa.com

Gara-Gara Corona, 10 Mahasiswa Universitas Di Tiongkok Ini Harus Jalani Ujian Skripsi Dari Boyolali

katasapa.com

Pemkab Wonogiri Belum Berencana Buka Tempat Wisata, Ini Alasannya

katasapa.com

Jika Liga 2 Digelar Tanpa Penonton, Pasoepati Minta Semua Laga Persis Solo Disiarkan

katasapa.com

Anies Baswedan Menghilang Jelang Berakhirnya PSBB III Jakarta, Ada Apa?

katasapa.com

JK: Seharusnya Masjid Dibuka Lebih Dulu Sebelum Mal!

katasapa.com

Kecelakaan Maut Tol Semarang-Solo: Truk Seruduk Truk, 1 Meninggal Dunia

katasapa.com

PAD Pajak Daerah Karanganyar Diestimasi Turun Rp16 Miliar

katasapa.com

Anang Hermansyah Cerita Kerasnya Hidup Setelah Cerai dengan KD

katasapa.com

Hari Ini Dalam Sejarah: 4 Juni 1940, Pertempuran Dunkrik Berakhir

katasapa.com

Penelusuran Sara Wijayanto di Alas Ketonggo Srigati Ngawi Sarat Nostalgia…

katasapa.com

Sudah Lima Hari Dibuka, Keraton Kasepuhan Cirebon Masih Sedikit Pengunjung

katasapa.com

Setiap Hari, Yayasan Wani Amal Cirebon Sediakan Nasi dan Pakaian Gratis

katasapa.com

Kunjungi Grage Mall, Wagub Jabar Minta Pengelola Mall Sediakan Sarung Tangan

katasapa.com

DPRD Kota Medan Renville Napitupulu: “Tertular Virus Memberi!”

katasapa.com

Olivier Giroud Ungkap Targetnya di Chelsea Usai Kembali Perpanjang Kontrak

katasapa.com

Barcelona Panas Lagi, Klub Ingin Potong Gaji Pemain untuk Kedua Kalinya

katasapa.com

Barcelona Ketar-ketir Lionel Messi Absen Latihan Rabu (3/6) Ini

katasapa.com

Begini Konsep Gaya Hidup Islami Hadapi New Normal ala DWP Sulsel

katasapa.com

Divonis Melanggar, Jokowi dan Menkominfo Wajib Minta Maaf Secara Terbuka tanpa Terkecuali, Begini Bunyinya

katasapa.com

Dor! Diduga Stres, Oknum Polres Tebingtinggi Bunuh Diri dengan Pistol Dinas

katasapa.com

Saul Niguez Umumkan ‘Klub Baru’, Fans Man United Kena Prank

katasapa.com

Duh! Pijat Plus-plus Gay Ditemukan di Perumahan Elit Tasbih, Barang Bukti Sex Toys dan Alat Kontrasepsi

katasapa.com

Polda Sumut Bongkar Salon Pijat Plus-plus Khusus Gay, Puluhan Kondom Berserakan

katasapa.com

Gerakkan Ekonomi Warga Seko, Pemda Lutra Rampungkan 22 KM Ruas Mabusa-Malimongan

katasapa.com

Pelatih Ganda Campuran Yakin Hafiz/Gloria Bisa Susul Praveen/Melati

katasapa.com

Komentar Rasis, Dihujat, Kehilangan Sponsor, Mantan Miss Universe Malaysia Minta Maaf

katasapa.com

Perpanjangan Ketiga PSBB, Pemkot Tangsel Tinjau Persiapan Mall dan Tempat Ibadah

katasapa.com

Pengembangan Kasus 35 Kg Sabu, Polisi Tembak Mati Bandar Asal Aceh di Medan

katasapa.com

Pulihkan Perekonomian Nasional, Pemerintah Siapkan Anggaran Rp 667,20 T

katasapa.com

Picu Kontroversi, Mantan Kabais Minta Perpres Terorisme Dibatalkan